Linimasa Memori (1850 – 1970)

1850-1900
Politik Tidak Campur Tangan
Credit : Leopold Nisnoni
  • Sejak tahun 1850-an pemerintah kolonial Belanda menjalankan politik yang disebut Onthoudingspolitiek atau politik tidak campur tangan pada urusan pribumi di seluruh wilayah Hindia-Belanda.
  • Timor dan pulau-pulau sekitar, sejak VOC bangkrut pada tahun 1799 disebut Timor en Onderhorigheden dipimpin oleh seorang Residen yang berkedudukan di Kupang. Daerah-daerah bawahan Timor adalah Timor, Flores, Sumba, Sumbawa, Rote, Sabu dan Alor

Credit : Leopold Nisnoni

1850-1900
Politik Tidak Campur Tangan
  • Kota Kupang sendiri menjadi daerah otonom sejak Benteng Kupang direbut oleh armada VOC pada tahun 1653 dan dinamai kembali dengan Concordia. Dari benteng inilah Belanda memperluas wilayahnya sampai menjadi sebuah kota yang disebut Kupang.
  • Jadi sejak awal, wilayah Kota Kupang disebut wilayah empat kilometer persegi (vierkantepal gebied) atau sering disebut juga wilayah pemerintah (gouvernement gebied) dan penduduknya adalah: 1. Para orang Belanda dan Eropa, 2. Para mardyker, papangers, dan warga kota (burge) antara lain warga Tionghoa dan Arab.

Credit : Leopold Nisnoni

1900-1930
Pax Nederlandica Dengan Dalih Politik Etis
  • Pax Nederlandica yang artinya Belanda memperkuat posisinya dengan melancarkan expansi ke pulau-pulau terluar termasuk Timor. Ini tidak termasuk Kota Kupang, karena masuk wilayah empat persegi (vierkante paal gebied) atau wilayah pemerintah (government gebied).
  • Untuk menjalankan pemerintahan yang efektif maka Belanda menggabungakan kerajaan yang dimulai tahun 1917 dari 84 kerajaan menjadi 48 kerajaan. 
  • Tujuh kerajaan kecil digabung menjadi satu kerajaan dengan nama Swapraja Kupang yang dibentuk pada tanggal 14 Desember 1917 melalui Beslit Governemen No. 46. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Sonbait Kecil, Funai, Amaabi, Tabenu, Amaabi Oefeto, dan Semau termasuk Babau.
1900-1930
Pax Nederlandica Dengan Dalih Politik Etis
  • Sebuah sekolah untuk guru pribumi, STOVIL (School tot opleiding van inlandsche leraars) didirikan di Rote pada awal abad ke-20. Pada tahun 1926 dipindahkan ke Kupang, namun pada tahun 1931 ditutup karena gerakan siswa yang menurut para pemimpin gereja berkaitan dengan nasionalisme. Pada tahun 1936 dibuka lagi di SoE.
  • Salah satu organisasi politik paling awal dan berpengaruh di Timor Barat adalah Timorsch Verbond, didirikan pada 1921 di Makassar oleh dua orang Rote, D. S. Pella dan J. W. Amalo. Kelompok ini didominasi oleh orang Rote dan Sabu; di tahun 1924, 60 persen anggota Timorsch Verbond adalah orang Rote dan Sabu. Anggotanya kebanyakan adalah guru, polisi dan pegawai pemerintah lainnya.

(Credit : KITLV)

1930-an
Dampak Politis Etis
  • Pengusaha Kupang yang paling terkenal sebelum Perang Dunia II adalah Tjiong Koen Siong. Ia memiliki gedung Bioskop, Pabrik Es Minerva, pompa bensin, pembangkit listrik dan pabrik limun, dan layanan truk pos ke pedalaman. Gedung bioskopnya bergaya art deco diberi nama Sunlie. Gedung ini kemudian diberi nama Royal dan pada jaman kemerdekaan disebut Bioskop Raya. Pada tahun 1937 Koen Siong membuka sebuah pembangkit listrik.

(Credit : Keluarga Sulungbudi)

1930-an
Dampak Politis Etis
  • Gerakan kebangkitan nasional di Jawa pada tahun 1920-an berimbas juga ke Kupang di Timor. Pada tahun 1933, tercatat tidak kurang Sembilan surat kabar di Kupang antara lain: Pewarta, Oetoesan, Sahabat, Pelita, Sedar, Fadjar, Tjermin, Warta Berita dan Taman Masehi. Umumnya terbit secara bulanan. Ada dua percetakan di Kupang saat itu yang mencetak semua surat kabar ini yaitu Hermien dan Boemi Poetra Timoer.

Credit : Leopold Nisnoni

1930-an
Dampak Politis Etis
  • Salah satu tokoh intelektual Timor adalah Izaak Huru Doko (1913-1985). I.H. Doko yang mengenyam pendidikan di Kupang bersama anak-anak raja, mendapat beasiswa pemerintah pada tahun 1928, melanjutkan di sekolah menengah pertama (MULO-B) di Ambon
  • Tokoh-tokoh lain yang mewarnai dinamika politik di Kupang antara lain D.S. Pella, J.W. Amalo, M.H. Pello, E.R. Herewilla, S.J. LauwoE, H. Johannes, S.K. Tibuludji, Ch.F. Ndaumanu,  J.H.A. Toelle dst.

Credit : Hans Benjamin Doko

1940-1945
Perang Dunia II dan Pendudukan Jepang
  • Kupang jatuh ke tangan Jepang pada 24 Februari 1942. Saat pendudukan Jepang, banyak penduduk melarikan diri ke luar Kupang, di kampung-kampung di pinggiran Kota Kupang sekarang seperti Batuplat, Tabun, Manulai, Baumata, dst. Sampai dengan bulan September, kota Kupang masih seperti kota mati dan pada bulan November 1942 penduduk dianjurkan untuk mencari lubang-lubang perlindungan karena Kupang mulai dihujani gelombang-gelombang pengeboman dari Darwin.

Credit : Leopold Nisnoni

1940-1945
Perang Dunia II dan Pendudukan Jepang
  • Raja Amarasi, H.A. Koroh diangkat menjadi raja Kupang karena Raja Nicolaas Nisnoni sudah terlalu tua dan dianggap terlalu pro-Belanda. Para elit juga berperan menghimpun tenaga manusia untuk kepentingan perang.
  • I.H.Doko menjabat sebagai komandan dua ex-officio di Kupang, dibawah daidanco angkatan laut bernama Tonita. Salah satu tugas organisasi ini adalah menguburkan mayat-mayat korban yang  semakin besar akibat pengeboman pihak Sekutu.

Credit : Leopold Nisnoni

1945-1950
Belanda Kembali, Kembalinya Kehidupan Politik
  • Di wilayah-wilayah yang masih dikuasai Belanda, Gubernur Jendral Van Mook mulai mengambil hati para elit lokal dengan harapan dapat membentuk pemerintahan yang berlandaskan pada, sampai pada batas tertentu, legitimasi tradisional. Ini dilakukan dengan mengembangkan lebih lanjut struktur federasi yang berurat berakar dalam pendekatan pemerintahan tidak langsung neo-tradisional yang telah berlangsung sebelum perang. Itulah Negara Indonesia Timur (NIT) hasil Konferensi Malino pada bulan Juli 1946.

Credit : Leopold Nisnoni

1945-1950
Belanda Kembali, Kembalinya Kehidupan Politik
  • Segera setelah kembali ke Timor, Residen Schuller merekomendasikan agar misionaris Katolik yang pernah ditahan di Sulawesi segera dikembalikan ke Timor untuk 'menyebarkan gagasan Belanda'.
  • Pendeta Belanda lainnya, seperti Pieter Middelkoop, yang menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Dawan, terus melayani dengan GMIT juga.

Credit : Pdt. Albinus Netti

1950-1960
Gerakan Anti Feodal, Mobilisasi Partai Politik
  • Motor ideologi modernitas ini di Kupang adalah E.R. Herewila (1906-1969). Satu dekade kemudian menguat kampanye komunis untuk memperjuangkan kaum petani dan hak-hak atas tanah dibangun di atas kampanye anti-feodal
  • Herewila memunyai pengaruh yang kuat di kalangan orang muda yang menginginkan modernitas. Pidato-pidato anti-feodalnya mengetuk hati anak-anak muda berpendidikan di kota. Ia banyak menggerakkan kelompok anak-anak muda untuk melakukan protes.

Credit : Ruth Henny Nitbani - Markus

1950-1960
Gerakan Anti Feodal, Mobilisasi Partai Politik
  • Herewila sebagai ketua Parlemen Timor melarang upeti di tahun 1949. Sebagai gantinya raja-raja diberi gaji yang lebih besar
  • Gerakan anti-feodalisme ini ditandai  dengan penggulingan J.S. Amalo, kepala pemerintahan pulau Timor pada tahun 1954 dan pengunduran diri Alfons Nisnoni sebagai raja Kupang pada tahun 1956.

Credit : Ruth Henny Nitbani - Markus

1960-1965
Muncul Kelas Menengah Baru Kota, Tragedi Politik
  • Aktivis Katolik anti-komunis Kanis Pari (Canisius Parera) yang waktu itu berusia 35 tahun mengingat bagaimana ia menjadi sasaran utama surat-surat kaleng dan telepon-telepon misterius karena keberpihakannya pada Koran stensil Pos Kupang dan bukan pada Koran stensilan PKI yang bernama Pelopor
  • Mobilisasi PKI dengan sendirinya menimbulkan reaksi yang keras dari kelompok pemilik hak-hak istimewa seperti para tuan tanah dan mantan raja-raja, kaum konsevatif keagamaan di kota dan birokrasi. Hal ini mau tak mau memicu konflik dan kekerasan yang luar biasa terutama dari tahun 1962-1965.

Credit : Keluarga Mandaru

1965-1970
Kota Pembantaian
  • Setelah Peristiwa 30 September 1965, terjadi pembantaian-pembantaian di Kupang. Orang-orang Tionghoa juga menjadi sasaran kemarahan pasca 30 September 1965. Sejumlah orang Tionghoa dibunuh antara lain Fu Tjien (jongkok sebelah kanan), seorang pemain basket berbakat yang menjalankan mesin stensil untuk lembar berita Komunis, Pelopor.
  • Dua hari setelah berita radio menyatakan dengan jelas bahwa putsch komunis di Jakarta telah gagal, para pemuda GMIT melempari rumah-rumah para pejabat PKI, mencabut poster-poster PKI dan pada 22 Oktober anak-anak muda dan anggota organisasi sipil yang dekat dengan militer mulai menangkapi anggota-anggota PKI.

Credit : Leopold Nisnoni

1965-1970
Kota Pembantaian
  • Michael Markus, ketua Barisan Tani Indonesia (BTI) cabang SoE ibukota Timor Tengah Selatan, bersama anaknya yang sulung, Oktavianus Leonard Markus dituduh terlibat Pemuda Rakjat, organisasi afiliasi PKI yang berkaitan dengan orang-orang muda, menghilang hingga hari ini.

Credit : Ruth Henny Nitbani - Markus 

1970an
Pembangunan Fisik, Penegasan Ideologi Pemerintah Pusat
  • Di tahun 1970-an inilah Kupang memiliki rencana tata kota yang pertama. Salah satu indikator perkembangan ekonomi adalah perkembangan pusat-pusat perbelanjaan berupa pasar-pasar dan toko-toko.
  • Gubernur El Tari kemudian memberi lisensi kepada pengusaha Tionghoa untuk menyediakan layanan angkutan umum swasta. Pickup Mistubishi Colt dalam jumlah yang cukup banyak di jalan-jalan beraspal kota Kupang. Minibus-minibus inilah yang kemudian dikenal dengan ‘bemo Kupang’. Pada tahun 1980 ada lebih dari 300 bemo di Kota Kupang.
error: Content is protected !!