Oleh: Trini Taneo, Ria Huky, dan Abraham Duan
Jalan kaki di era yang serba cepat ini bagi sebagian orang adalah kegiatan yang lambat dan menguras tenaga. Tidak heran, sebab di Kota Kupang pembangunan belum berpihak pada pejalan kaki. Berjalan kaki bukan hanya tentang cepat atau lambat dalam mencapai tujuan, tetapi juga tentang kenyamanan dan bahkan keamanan di ruang kota.
Trotoar yang sebagian besar hanya tersedia di ruas-ruas jalan utama Kupang cenderung sempit, rusak, dan tidak berkesinambungan. Sementara itu di bagian jalan lain, pejalan kaki harus bersaing dengan kendaraan bermotor. Jalanan cenderung lebar dan memprioritaskan kendaraan dibandingkan pejalan kaki yang membuat pejalan kaki harus selalu mengalah kepada pengendara, bukan sebaliknya. Pejalan kaki di ruang publik juga dihadapkan pada ancaman atas rasa aman. Cat calling—baik pada perempuan maupun laki-laki— gangguan dari hewan liar, dan penerangan jalan yang belum maksimal di malam hari menjadi beban tersendiri.
Di tengah berbagai tantangan ini, MEREKAM KOTA selama enam tahun ini malah konsisten memilih jalan kaki sebagai metode memahami ruang kota. Bagi Tim MEREKAM KOTA memahami ruang kota tidak bisa dilakukan dengan melihat dari atas kendaraan, karena berbagai detail dari sebuah kota baru dapat dibaca melalui langkah yang tidak terburu-buru. Berjalan kaki, memungkinkan pengamatan yang dekat dan spesifik terhadap kondisi fisik lingkungan, aktivitas masyarakat, serta berbagai jejak yang membentuk identitas ruang kota. Ruang-ruang yang biasanya tampak buram saat berkendara, terlihat lebih jelas melalui setiap langkah kaki.
Sejak awal MEREKAM KOTA dirancang, jalan kaki sudah jadi elemen penting di dalam prosesnya. Pada masa awal inisiasi program MEREKAM KOTA pada tahun 2019, SkolMus banyak berjalan kaki di area Kota Lama memetakan wilayah tersebut sebagai titik awal perkembangan Kota Kupang. Dari proses pemetaan tersebut, SkolMus melihat kemungkinan penggunaan Pabrik Es Minerva dan bekas Gedung Asisten Residen Timor sebagai lokasi pelaksanaan Pameran Arsip Publik MEREKAM KOTA. Selain itu, proses awal tersebut penting untuk memetakan berbagai titik di Kota Lama yang terdokumentasi dalam berbagai arsip maupun sumber-sumber sejarah Kota Kupang, baik milik Belanda maupun milik keluarga-keluarga di Kupang.
Jalan kaki terus menjadi metode utama yang MEREKAM KOTA lakukan di dalam proses yang berlangsung hingga saat ini. Eto Boymau bercerita bahwa pada tahun 2022 Tim Pengarsipan diajak berkeliling untuk menyusuri Kecamatan Kota Lama untuk mengetahui serta mengenal kondisi wilayah tersebut sebelum melakukan proses penelitian dan pengarsipan. Saat berkeliling banyak hal baru yang ditemukan di wilayah tersebut. Salah satunya adalah beberapa permukiman di Kota Lama yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki karena banyaknya tangga, gang-gang kecil dan perumahan yang padat.

Tidak hanya itu, dengan berjalan kaki tim dapat merasakan suasana di wilayah tersebut yang berbeda dengan keadaan Kota Kupang yang biasa dilewati. Terdapat perubahan suasana, dari suasana kota yang terasa ramai dan sibuk menuju sudut-sudut wilayah yang lebih tenang dan hening.
“Berjalan kaki membuat pikiran dan semua indra di tubuh kita bekerja untuk merasakan keadaan sekitar” kata Melati Lobo.
Dengan metode jalan kaki, proses menyusuri suatu wilayah menjadi lebih bermakna. Bukan hanya mata yang melihat atau kaki yang melangkah, tetapi pikiran dan seluruh indra turut bekerja. Setiap langkah memberi kesempatan untuk merasakan suasana, mengamati sekitar, dan menangkap berbagai detail kecil yang mungkin terlewat jika menggunakan kendaraan. Selain itu dengan metode ini, tim dapat membangun relasi antaranggota tim maupun dengan masyarakat di wilayah tersebut. Karena saat berjalan kita memiliki banyak waktu untuk berbincang, bertukar cerita serta berdiskusi secara santai mengenai berbagai hal termasuk cerita atau arsip dari masyarakat.
Namun, proses penelitian dan pengumpulan arsip tidak selalu aman dan lancar. Berdasarkan pengalaman dari Tim Penelitian dan Pengarsipan MEREKAM KOTA 2024, Egha Mbua bercerita selama penelitian dan pengumpulan arsip di lapangan terkadang terdapat penolakan dari masyarakat seperti dimarahi pemilik toko, kelelahan, ketakutan karena daerah yang gelap, dikejar anjing bahkan pengalaman tak terduga ketika diajak bergabung menjadi agen suatu perusahaan.
Selain pengalaman yang berasal dari interaksi dengan masyarakat, pengalaman berjalan kaki juga memperlihatkan bagaimana kota memperlakukan pejalan kaki. Seperti, pemasangan lampu jalan pada trotoar yang menghambat pejalan kaki, trotoar yang belum tersedia di sejumlah ruas jalan, maupun pedagang kaki lima yang berdagang di trotoar. Kondisi tersebut membuat ruang berjalan kaki menjadi kurang nyaman, sehingga memaksa pejalan kaki harus melalui badan jalan.
Dari berbagai pengalaman itu, tim menyadari bahwa kegiatan berjalan kaki tidak selalu berlangsung aman dan tenang seperti yang dibayangkan. Justru berbagai pengalaman ini menuntun tim untuk memahami kota secara lebih kritis.
Tidak hanya dalam proses penelitian dan pengarsipan, metode jalan kaki juga diterapkan pada beberapa aktivitas Tim MEREKAM KOTA seperti pencarian gedung pameran. Dalam mencari gedung pameran, penerapan metode ini juga dilakukan hampir sama seperti pada proses penelitian dan pengarsipan. Di mana tim akan memarkirkan kendaraan mereka di satu titik, kemudian berjalan kaki bersama menyusuri wilayah yang berpotensi memiliki bangunan atau gedung yang cocok untuk digunakan sebagai tempat pameran. Dengan metode ini, tim bisa mengamati setiap bangunan secara lebih teliti, merasakan suasana wilayah sekitar bangunan tersebut serta bisa berdiskusi langsung di wilayah mengenai potensi ruang yang akan digunakan sebagai tempat pameran. Cara ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya melihat bangunan dari kendaraan atau melalui foto.
Jalan kaki juga menjadi salah satu metode utama yang MEREKAM KOTA gunakan dalam berbagai program publik yang melibatkan masyarakat umum seperti Street Exhibition di Kota Lama pada tahun 2020, Kelas Fotografi pada tahun 2022, maupun KELANA yang sudah dilakukan sejak 2024 dengan nama lain.
KELANA adalah program publik MEREKAM KOTA yang melibatkan masyarakat umum sebagai peserta untuk berjalan kaki menyusuri beberapa tempat bersejarah di Kota Kupang bersama Tim MEREKAM KOTA. Interaksi alami sangat terasa setiap kali peserta berbagi pengalaman atau pengetahuan tentang tempat-tempat tersebut kepada tim MEREKAM KOTA, terjalin diskusi santai setiap langkah yang ditempuh sehingga memperkaya dan memperluas pemahaman tim maupun peserta tentang Kota Kupang.

Dengan demikian, jalan kaki yang awalnya hanya digunakan untuk mengenal wilayah penelitian dan pengarsipan menjadi bagian penting dalam program MEREKAM KOTA untuk menghadirkan pengalaman bagi tim maupun masyarakat umum tentang memori, ruang dan imajinasi Kota Kupang. Bagi tim MEREKAM KOTA ruang bukan sekedar tempat beraktivitas tetapi juga tempat di mana tersimpan berbagai cerita yang membentuk pengalaman warga terhadap kota.
Dari Kota Kupang yang terlihat padat dan sibuk tersimpan detail yang sering luput dari pandangan. Melalui langkah-langkah yang terlihat lambat terdapat kesempatan menemukan detail-detail tersebut, membangun interaksi yang hangat dengan masyarakat umum, serta mempererat kebersamaan antaranggota tim.
